Selasa, 27 November 2012

FILSAFAT ILMU YANG MEMPUNYAI MAKNA ASAL ITU BIJAKSANA



FILSAFAT ILMU YANG MEMPUNYAI MAKNA ASAL ITU BIJAKSANA

Filsafat ilmu yang mempunyai makna asal itu bijaksana dari asal kata sopi bahasa yunani. Tapi dalam hal ini kita tahu dalam pola pikiri kita semua bias berubah apaka itu kata atau arti, semua bisa berubah tapi ada yang gak bias berubah yaitu perubahan itu sendiri, tapi dalam hal ini kita gak mau jauh melangkah dalam pembahasan tadi filsafat itu mempunyai sebuah makna yaitu polapikir kata yang menerangkan dengan bahasa kita itu yang ku dengar dari dosen aku tadi siang. Dalam bahasan ini filsafat itu posisinya berada dibawah posisi ketuhanan yang kita percayai, ya itu memang betul karena dalam hemat saya sejak S1 saya memposisikan tuhan saya sebagai filter dalam mempelajari segala hal dan jika tuhan itu di artikan atau filasafat menanyakan tuhan itu apa dan bagaimana jawabannya gak ada dan akan menimbulkan kemurtatan, dalam hal ini saya punya sebuah jawaban atau menurut hemat saya jika tuhan di filsafatkan atau diartikan  maka orang yang mempelajarinya jika tidak kuat dalam pola pikirnya akan murtat dan beratanya ,,,,,tuhan ku itu sapa, ada apa enggak, tapi tuhan itu wajib kita percayai dalam hati kita,,, tapi ada juga yang menunjuk tuhan itu diatas yang menimbulkan pertanyaan bagi saya ,,,,mang tuhan itu batu meteor pa, apa diatas sana ada tuhan kal ada nasa suruh nemuin  aja hahahahah, dan jika ada pertanyaan dmna tuhan mu?   Pada nunjuk ke atasss,,, ku bingung tentang orang yang kalau ditanya tuhan nunjuknya keatas seharusnya dalam hati kita dan jangan dipikirikan karena itu suatu kepercayaan.
Memang dalam bahasan ini filsafat itu tak bias mendefinisikan tentang tuhan, ruh, nyawa, itu menurut kuuu,,,, mungkin ada orang yang bisa membahasnya dalam filsafat apa itu ruh,tuhan, nyawa,,,,,,, kal ada ku ancungkan jempoll.

DUNIA PENDIDIKAN DAN SEJARAH TINGKATANNYA



Muhammad sopiayana /12703251010/ mp a

DUNIA PENDIDIKAN DAN SEJARAH TINGKATANNYA

Dalam dunia saat ini hingga nati ,, bawasannya praktisi pendidikan dan penggolongan  dalam pendidikan itu pasti ada kaitan dalam hal ini ada lima tingkatan pendidikan dan kegunaannya:
1.      Industry prakmatis: dalam hal ini dunia pendidikan didasari pada dunia praktis yaitu dunia dimana industry melanda dalam kalangan pendidikan dari input pendidikan yang sudah dicekoki oleh industry dan mesin sampai dengan proses dalam pendidikan itu dibuat mesin juga hingga out put pun juga di tujukkan untuk mengatasi industry dalam mesin ,,hal ini terjadi pada era revolusi industry, yang imbasnya masuk Indonesia pada tahun 80 an.
2.      Feodala dan kerajaan: dalam kaitan ini pendidikan terkekang oleh dogma dogma pendidikan dari aliran kerjaan dan yang boleh mencicip[I pendidikan ini hanyalah keturunan kerajaan saja.
3.      Olt Humanis : mentitik pusatkan pada manusia yng ateis tidak mempercayai adanya tuhan hal ini terjadi pada negara-negara modern yang meniadakan tuhan, karena tuhan dianggapnya sebagai penghambat ilmu yang mereka kembangkan
Dalam tiga bahasan diatas tadi adalah pendidikan yang tradisional dan harus diubah menjadi pendidikn yang modern hal ini dirubah karena membebani peserta didik karena pesrta didik hanya diam dan mendengar ocehan para guru saja bukan saling melengkapi dalam pendidikan dan guru menjadi menpower bukan menjadi patner.
4.      Progresif : dalam  hal ini pendidikan lebih berorientasi pada siswa yang notabennya siswa ini adalah masadepan kita dan penerus bangsa, jadi siswa disini adalahg sebuah makluk yang hidup dan mempunyai pikiran untuk berkemabang  dan tidak hanya men erima saja tapi dia diposisikan juga mencari agar dia mendapat suatu pengalaman yang dapat meningkatkan kecerdasannya.
5.      Sosikontratifis : bahawa dalam pembelajaran itu harus terdapat suatu hubungan sosial didalamnya bukan hany hubungan murit dengan guru karena dalam hal ini hubungan ini lah yang menyebabkan suatu itu berjalan lancer , dan hambatan yang dihapi dalam pembelajaran itu akan diselesaikan bersama karena dalam hal ini sama kaitannya denga sutu lingkungan yang saling mebantu dalam suatu permasalahan pendidikan.

Selasa, 13 November 2012

agama, filsafat, harmoni



Penanya: MUHAMMAD SOPIYANA  (12703251010)
Penjawab: KURNIA DESYANTO SIANTURI (12703251017)
Kelas: MP A
JUDUL : AGAMA, FILSAFAT, HARMONI


1.      Agama dan filsafat itu hubungannya seperti apa?
Jawab: agama dan filsafat itu adalah dua hal yang berbeda kettika bicara agama itu pada herarki tertinggi dan filsafat itu berada pada herarki yang kita pelajari pada filsafat ilmu.
Hubungannya sama-sama mencari kebenaran agama. Agama adalah kebenarfan hakiki dan filsafat adalah kebenaran menurut berfilsafatnya masing-masing, agama itu bicara tentang hati dan fikiran kal filsafat cenderung pada hati dan fikiran. Filsafat menuntut kebenaran yang bersifat objektif terhadap siapa saja yang memandang filsafat itu kala aga merupakan suatu yang benar dan sudah pasti.
2.      Filsafat agama itu seperti apa?
Filsafat agama itu mencari kebenaran /rahsia-rahasia yang terkandung dalam agama tersebutyang memiliki nilai luhur agar dapat diterapkan  dan di mengerti dipahami bagi setiapa individu yang memahaminya .
3.      Pandangan filsafat tentang ruh itu bagaimana ?
Ruh itu terletak ditransenden dimensi 4 ruh tak bisa dijelaskan dengan kata-kata dan tak bisa dijelaskan dengan logika. Ruh itu bersifat mistis
4.      Bagaimana filsafat barat memahami tuhan?
Hidup itu adalah perbedaan dimana harus ada toleransi dan tidak adanya kesinggungan tentang tuhan dan motif atau kepentingan didalamnya cukup mempercayai dan menyakininya.
5.      Bagai mana pandangan filsafat mengenai fiqh lintas agama?
Manusia itu bisa mengerti tapi manusia tak bisa memahami hanya mengulang kesalahannya
6.      Disharmoni dalam agama itu seperti apa?
Suatu yang hakiki itu memang berada dalam posisi tertinggi dank iota wajib mempercayainya dan kita wajib mengamalkan perintanya dengan  kepercayaan masing masing.
7.      Tuhan dimata filsafat timur itu seprti apa?
Tuhan dimata filsafat timur itu bagaikan saringan ilmu pengetahuan yang sangat cermat dalam menyaring ilmu yang  baik untuk umat manusia dan yang tidak baik untuk umat manusia dan sebai rujukan manusia yang stgnan karena ilmunya itu.
8.      Perekdusian tuhan dalam filsafat itu seprti apa?
Reduksi itu pilihan dimana tuhan itu bukanlah pilihankarena dialah yang menciptakan segala sesuatu yang ada didunia baik sesuatu yang belum ada maupun sesuatu yang yang mungkin ada , tapi manusia hanyalah menciptakan sesuatu yang sudah ada.
9.      Harmoni didalam filsafat itu seperti apa?
Harmoni itu kesesuaian, keteraturan, keseimbangan yang berjalan secara beriringan sesuai tugas masing-masing hal itu terjadi karena sudah tersusun secara sistematis yang terjadi secara alamiyah.
10.  Bagai mana membuat harmoni jiwa, fikiran, ruh, nyawa, nur Muhammad, nurilahi yang ada di raga kita?
Dengan cara memikirkan melaksanakan  sesuatu sesuai dengan ruang dan waktu sedangkan yang tak terpikirkan dibuang kedalam epoke. Melaksanakan perintah dan menjahui segala larangannya yang didalamnya sudah terkandung pola hidup yang indah dan harmoni.

Rabu, 03 Oktober 2012

cinta dalam filsafat

Cinta bisa jadi merupakan kata yang paling banyak dibicarakan manusia. Setiap orang memiliki rasa cinta yang bisa diaplikasikan pada banyak hal. Wanita, harta, anak, kendaraan, rumah dan berbagai kenikmatan dunia lainnya merupakan sasaran utama cinta dari kebanyakan manusia. Cinta yang paling tinggi dan mulia adalah cinta seorang hamba kepada Rabb-nya.

Kita sering mendengar kata yang terdiri dari lima huruf: CINTA. Setiap orang bahkan telah merasakannya, namun sulit untuk mendefinisikannya. Terlebih untuk mengetahui hakikatnya. Berdasarkan hal itu, seseorang dengan gampang bisa keluar dari jeratan hukum syariat ketika bendera cinta diangkat. Seorang pezina dengan gampang tanpa diiringi rasa malu mengatakan, “Kami sama-sama cinta, suka sama suka.” Karena alasan cinta, seorang bapak membiarkan anak-anaknya bergelimang dalam dosa. Dengan alasan cinta pula, seorang suami melepas istrinya hidup bebas tanpa ada ikatan dan tanpa rasa cemburu sedikitpun.

Demikianlah bila kebodohan telah melanda kehidupan dan kebenaran tidak lagi menjadi tolok ukur. Dalam keadaan seperti ini, setan tampil mengibarkan benderanya dan menabuh genderang penyesatan dengan mengangkat cinta sebagai landasan bagi pembolehan terhadap segala yang dilarang Allah dan Rasul-Nya Muhammad . Allah berfirman:
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (Ali ‘Imran: 14)

Rasulullah  dalam haditsnya dari shahabat Tsauban  mengatakan: ‘Hampir-hampir orang-orang kafir mengerumuni kalian sebagaimana berkerumunnya di atas sebuah tempayan.’ Seseorang berkata: ‘Wahai Rasulullah, apakah jumlah kita saat itu sangat sedikit?’ Rasulullah  berkata: ‘Bahkan kalian saat itu banyak akan tetapi kalian bagaikan buih di atas air. Dan Allah benar-benar akan mencabut rasa ketakutan dari hati musuh kalian dan benar-benar Allah akan campakkan ke dalam hati kalian (penyakit) al-wahn.’ Seseorang bertanya: ‘Apakah yang dimaksud dengan al-wahn wahai Rasulullah?’ Rasulullah  menjawab: ‘Cinta dunia dan takut mati.’ (HR. Abu Dawud no. 4297, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 3610)

Asy-Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di dalam tafsirnya mengatakan: “Allah memberitakan dalam dua ayat ini (Ali ‘Imran: 13-14) tentang keadaan manusia kaitannya dengan masalah lebih mencintai kehidupan dunia daripada akhirat, dan Allah menjelaskan perbedaan yang besar antara dua negeri tersebut. Allah memberitakan bahwa hal-hal tersebut (syahwat, wanita, anak-anak, dsb) dihiaskan kepada manusia sehingga membelalakkan pandangan mereka dan menancapkannya di dalam hati-hati mereka, semuanya berakhir kepada segala bentuk kelezatan jiwa. Sebagian besar condong kepada perhiasan dunia tersebut dan menjadikannya sebagai tujuan terbesar dari cita-cita, cinta dan ilmu mereka. Padahal semua itu adalah perhiasan yang sedikit dan akan hilang dalam waktu yang sangat cepat.”

Definisi Cinta

Untuk mendefinisikan cinta sangatlah sulit, karena tidak bisa dijangkau dengan kalimat dan sulit diraba dengan kata-kata. Ibnul Qayyim mengatakan: “Cinta tidak bisa didefinisikan dengan jelas, bahkan bila didefinisikan tidak menghasilkan (sesuatu) melainkan menambah kabur dan tidak jelas, (berarti) definisinya adalah adanya cinta itu sendiri.” (Madarijus Salikin, 3/9)

Hakikat Cinta

Cinta adalah sebuah amalan hati yang akan terwujud dalam (amalan) lahiriah. Apabila cinta tersebut sesuai dengan apa yang diridhai Allah, maka ia akan menjadi ibadah. Dan sebaliknya, jika tidak sesuai dengan ridha-Nya maka akan menjadi perbuatan maksiat. Berarti jelas bahwa cinta adalah ibadah hati yang bila keliru menempatkannya akan menjatuhkan kita ke dalam sesuatu yang dimurkai Allah yaitu kesyirikan.

Cinta kepada Allah

Cinta yang dibangun karena Allah akan menghasilkan kebaikan yang sangat banyak dan berharga. Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin (3/22) berkata: ”Sebagian salaf mengatakan bahwa suatu kaum telah mengaku cinta kepada Allah lalu Allah menurunkan ayat ujian kepada mereka:

“Katakanlah: jika kalian cinta kepada Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian.” (Ali ‘Imran: 31)

Mereka (sebagian salaf) berkata: “(firman Allah) ‘Niscaya Allah akan mencintai kalian’, ini adalah isyarat tentang bukti kecintaan tersebut dan buah serta faidahnya. Bukti dan tanda (cinta kepada Allah) adalah mengikuti Rasulullah , faidah dan buahnya adalah kecintaan Allah kepada kalian. Jika kalian tidak mengikuti Rasulullah  maka kecintaan Allah kepada kalian tidak akan terwujud dan akan hilang.”

Bila demikian keadaannya, maka mendasarkan cinta kepada orang lain karena-Nya tentu akan mendapatkan kemuliaan dan nilai di sisi Allah. Rasulullah  bersabda dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik :
“Tiga hal yang barangsiapa ketiganya ada pada dirinya, niscaya dia akan mendapatkan manisnya iman. Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, dan hendaklah dia mencintai seseorang dan tidaklah dia mencintainya melainkan karena Allah, dan hendaklah dia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan dia dari kekufuran itu sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Al-Bukhari no. 16 dan Muslim no. 43)

Ibnul Qayyim mengatakan bahwa di antara sebab-sebab adanya cinta (kepada Allah) ada sepuluh perkara:
Pertama, membaca Al Qur’an, menggali, dan memahami makna-maknanya serta apa yang dimaukannya.
Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan sunnah setelah amalan wajib.
Ketiga, terus-menerus berdzikir dalam setiap keadaan.
Keempat, mengutamakan kecintaan Allah di atas kecintaanmu ketika bergejolaknya nafsu.
Kelima, hati yang selalu menggali nama-nama dan sifat-sifat Allah, menyaksikan dan mengetahuinya.
Keenam, menyaksikan kebaikan-kebaikan Allah dan segala nikmat-Nya.
Ketujuh, tunduknya hati di hadapan Allah .
Kedelapan, berkhalwat (menyendiri dalam bermunajat) bersama-Nya ketika Allah turun (ke langit dunia).
Kesembilan, duduk bersama orang-orang yang memiliki sifat cinta dan jujur.
Kesepuluh, menjauhkan segala sebab-sebab yang akan menghalangi hati dari Allah . (Madarijus Salikin, 3/18, dengan ringkas)
Cinta adalah Ibadah

Sebagaimana telah lewat, cinta merupakan salah satu dari ibadah hati yang memiliki kedudukan tinggi dalam agama sebagaimana ibadah-ibadah yang lain. Allah berfirman:

“Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu.” (Al-Hujurat: 7)

“Dan orang-orang yang beriman lebih cinta kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)

“Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.” (Al-Maidah: 54)

Adapun dalil dari hadits Rasulullah  adalah hadits Anas yang telah disebut di atas yang dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim: “Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya.”



Macam-macam cinta

Di antara para ulama ada yang membagi cinta menjadi dua bagian dan ada yang membaginya menjadi empat. Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdulwahhab Al-Yamani dalam kitab Al-Qaulul Mufid fi Adillatit Tauhid (hal. 114) menyatakan bahwa cinta ada empat macam:

Pertama, cinta ibadah.
Yaitu mencintai Allah dan apa-apa yang dicintai-Nya, dengan dalil ayat dan hadits di atas.

Kedua, cinta syirik.
Yaitu mencintai Allah dan juga selain-Nya. Allah berfirman:

“Dan di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan (bagi Allah), mereka mencintai tandingan-tandingan tersebut seperti cinta mereka kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)

Ketiga, cinta maksiat.
Yaitu cinta yang akan menyebabkan seseorang melaksanakan apa yang diharamkan Allah dan meninggalkan apa-apa yang diperintahkan-Nya. Allah berfirman:

“Dan kalian mencintai harta benda dengan kecintaan yang sangat.” (Al-Fajr: 20)

Keempat, cinta tabiat.
Seperti cinta kepada anak, keluarga, diri, harta dan perkara lain yang dibolehkan. Namun tetap cinta ini sebatas cinta tabiat. Allah berfirman:

“Ketika mereka (saudara-saudara Yusuf ‘alaihis salam) berkata: ‘Yusuf dan adiknya lebih dicintai oleh bapak kita daripada kita.” (Yusuf: 8)

Jika cinta tabiat ini menyebabkan kita tersibukkan dan lalai dari ketaatan kepada Allah sehingga meninggalkan kewajiban-kewajiban, maka berubahlah menjadi cinta maksiat. Bila cinta tabiat ini menyebabkan kita lebih cinta kepada benda-benda tersebut sehingga sama seperti cinta kita kepada Allah atau bahkan lebih, maka cinta tabiat ini berubah menjadi cinta syirik.



Buah cinta

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah  mengatakan: “Ketahuilah bahwa yang menggerakkan hati menuju Allah ada tiga perkara: cinta, takut, dan harapan. Dan yang paling kuat adalah cinta, dan cinta itu sendiri merupakan tujuan karena akan didapatkan di dunia dan di akhirat.” (Majmu’ Fatawa, 1/95)

Asy-Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di  menyatakan: “Dasar tauhid dan ruhnya adalah keikhlasan dalam mewujudkan cinta kepada Allah. Cinta merupakan landasan penyembahan dan peribadatan kepada-Nya, bahkan cinta itu merupakan hakikat ibadah. Tidak akan sempurna tauhid kecuali bila kecintaan seorang hamba kepada Rabbnya juga sempurna.” (Al-Qaulus Sadid, hal. 110)

Bila kita ditanya bagaimana hukumnya cinta kepada selain Allah? Maka kita tidak boleh mengatakan haram dengan spontan atau mengatakan boleh secara global, akan tetapi jawabannya perlu dirinci.

Pertama, bila dia mencintai selain Allah lebih besar atau sama dengan cintanya kepada Allah maka ini adalah cinta syirik, hukumnya jelas haram.
Kedua, bila dengan cinta kepada selain Allah menyebabkan kita terjatuh dalam maksiat maka cinta ini adalah cinta maksiat, hukumnya haram.
Ketiga, bila merupakan cinta tabiat maka yang seperti ini diperbolehkan.

Senin, 01 Oktober 2012

kapitalisme



Kapitalisme adalah idiologi yang pertama dan utama yang ada di dunika ini. Karena kita lihat saja pengertiyan dari idiologi ini adalah suatu paham yang meyakini bahwa pemilik modal bisa melakukan usahanya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya dalam hal ini kita tahu orang yang berkuasa adalah orang yang memiliki modal yang tinggi dan semua itu bias di beli dengan uanga. Memang sulit menghilangkan paham yang sudah tertanam di dalam diri manusia sejak zaman perkenalan perdagangan di dunia ini mulai ada. Karena idiologi sangat cepat perkemabangannya dari waktu ke waktu sangat pesat dan cepat. Tapi dalam era modern ini idiologi ini tidak hanya menjurus ke dalam bidang ekonomi saja melainkan ke banyak bidang seperti sosial, politik, mudaya dll.  Tapi dalam menyikapai idiologi ini kita harus berlaku bijak dan berfikir kritis tentang dampak dan akibat dari idiologi ini karena kita tidak saja langsung memakan mentah-mentah idiologi ini kita juga harus menyaring mana yang baik buat kita dan mana yang baik buat lingkungan kita.
Tapi dalam menghadapi ataupun menyikapi budaya ini kita juga harus mempunyai cara yang bijak mengatasinya dengan memberdayakan kearifan lokal dengan sikap kita yang seharusnya itu seperti cerdas, dinamis, fleksibel karena dengan sikap sep[erti itulah kitra bias menghadapi idiologi kapitalisme dengan bijak sana tanpa harus merusak tatanan norma yang sudah ada sejak dulu. Tapi dalam menyikapinya kita juga tidak harus berfikir yang prejudis yaitu berfikir yang mengharamkan sesuatu dalam menciptakan syarat-syarat berfikir, hal demikian ini yang membuat suatu perpecahan dalam memamhami suatu permasalahahn dan akan menjadi ujung tombvak untuk menghancurkan diri sendiri dan golongan, karena berfikir ini mencerminkan orang yang berfikir radikal dan terkesan individualistis dan tak mau menerima masukan dari luar itulah yang haruskita hindari dalam memfikirkan suatu faham atau keilmuan apapun.